Mendeteksi kebohongan tidak harus dilakukan dengan alat khusus seperti yang sering dipakai para agen rahasia saat menginterogasi musuh. Menurut penelitian, orang jujur bisa dibedakan dari tukang tipu hanya berdasarkan bentuk wajahnya.
Bagian wajah yang diamati adalah lebar muka secara rata-rata, jika semakin lebar maka kemungkinan besar orang tersebut cenderung suka berbohong. Sebaliknya jika wajahnya sempit alias tirus, maka orang tersebut biasanya lebih jujur dan bisa dipercaya.
Etnis tertentu mungkin mewarisi bentuk wajah yang lebih lebar dibanding etnis yang lain. Karena itu yang dikatakan memiliki wajah yang lebar adalah ketika dibandingkan dengan ukuran wajah rata-rata pada ras atau etnisnya sendiri, bukan dibandingkan dengan etnis yang lain.
Teori ini dibuktikan dalam penelitian Michael Haselhuhn, PhD, seorang profesor manajemen dari University of Wisconsin di Milwaukee. Dalam penelitian tersebut, Prof Haselhuhn melibatkan 115 mahasiswa tanpa membedakan asal usul dan latar belakang etnisnya.
"Temuan kami menunjukkan struktur wajah seseorang bisa menunjukkan perilakunya yang terkait dengan kejujuran. Namun perlu kami tekankan ada banyak faktor lain yang mempengaruhinya," ungkap Prof Haselhuhn.
Prof Haselhuhn menambahkan, kecenderungan ini diduga berkaitan dengan naluri manusia dalam menghindari konfrontasi atau keributan dengan menganggap wajah lebar tampak lebih galak. Karena banyak yang merasa segan, maka orang berwajah lebar cenderung merasa berkuasa lalu berperilaku semaunya.
Meski demikian, hingga saat ini hasil penelitian Prof Haselhuhn belum pernah dijadikan standar baku untuk mendeteksi kebohongan. Alat-alat lie detektor atau pendeteksi kebohongan yang umum dipakai masih menggunakan teknologi lama.
sumber: detik.com
Tagged bentuk, deteksi, kebohongan, penelitian, wajah