Seorang anak sedang bermain dan menemukan kepompong kupu-kupu di sebuah dahan yang rendah. Diambilnya kepompong tersebut dan tampak ada lubang kecil disana.
Anak itu tertegun mengamati lubang kecil tersebut karena terlihat ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu tampaklah kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia kelihatan sudah berusaha semampunya dan nampaknya sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil di ujung kempompongnya.
Melihat fenomena itu, si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Dia pun mengambil gunting lalu mulai membuka badan kepompong dengan guntingnya agar kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.
Begitu kepompong terbuka, kupu-kupu pun keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki tubuh gembung dan kecil. Sayap-sayapnya nampak masih berkerut. Anak itu pun mulai mengamatinya lagi dengan seksama sambil berharap agar sayap kupu-kupu tersebut berkembang sehingga bisa membawa si kupu-kupu mungil terbang menuju bunga-bunga yang ada di taman.
Harapan tinggal harapan, apa yang ditunggu-tunggu si anak tidak kunjung tiba. Kupu-kupu tersebut terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap yang masih berkerut serta tidak berkembang dengan sempurna. Kupu-kupu itu akhirnya tidak mampu terbang seumur hidupnya.
Si anak rupanya tidak mengerti bahwa kupu-kupu perlu berjuang dengan usahanya sendiri untuk membebaskan diri dari kepompongnya. Lubang kecil yang perlu dilalui akan memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu masuk ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan.
dikutip dari buku "setengah isi setengah kosong"
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Motivasi yang kuat adalah modal yang sempurna untuk menghadapi rintangan seberat apapun. Seperti yang ditunjukkan seorang korban kanker, ia tetap bisa menjadi atlet sepeda meski kehilangan 1 kaki dan 1 paru karena penyakitnya tersebut.
Jothy Rosenberg, pria 52 tahun asal Massachusetts merupakan salah seorang mantan penderita kanker dengan motivasi yang luar biasa. Meski hidup dengan hanya 1 kaki dan 1 paru, ia tetap bisa menjadi atlet sepeda sekaligus pengusaha dan seorang penulis buku.
Kisah Jothy sebagai penderita kanker dimulai pada usia 16 tahun, ketika tiba-tiba ia terjatuh dalam pelajaran olahraga. Saat mengobati cedera di kakinya, para dokter menemukan sejenis kanker ganas yang menggerogoti tulangnya yakni oestoesarkoma.
Karena saat itu belum ada kemoterapi, Jothy tidak punya pilihan lain kecuali harus merelakan kaki kanannya diamputasi. Sebuah keputusan sulit, karena hal itu akan sangat membatasi aktivitasnya sehari-hari termasuk untuk menjalankan hobi olahraganya.
"Awalnya saya merasa kehilangan kekuatan dan keseimbangan. Bahkan untuk berdiri saja rasanya sulit," ungkap Jothy seperti dikutip dari Boston.com.
Namun Jothy tidak mau menyerah begitu saja, lalu mulai belajar berjalan dengan kruk atau penyangga. Begitu merasa mulai terampil berjalan, ia mulai menunjukkan semangatnya dengan mendaki beberapa bukit di sekitar tempat tinggalnya bersama sejumlah rekan.
Semangat itu kembali diuji ketika 3 tahun kemudian kanker kembali menggerogoti tubuh Jothy. Sel-sel kanker di tulang kaki yang dulu terlanjur menyebar kali ini muncul lagi di paru-paru dan lagi-lagi ia harus merelakan salah satu parunya diangkat.
"Saya pikir saya akan mati kali ini. Tapi untungnya kemoterapi sudah ditemukan di Dana Farber dan akhirnya saya bisa diselamatkan," kenang Jothy.
Hidup dengan 1 paru sebenarnya sudah bukan hal yang aneh lagi, contohnya Sean Swarner, mantan penderita kanker paru asal Ohio yang pernah mendaki Puncak Everest. Di dalam negeri, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga bergerilya dengan hanya 1 paru akibat infeksi saluran napas.
Namun dengan hanya 1 kaki, rasanya agak sulit membayangkan Jothy bisa melakukan olahraga ekstrem seperti bermain ski dan bersepeda. Dalam buku terbarunya yang berjudul Who Says I Can't, ia mengatakan butuh waktu sekitar 10 tahun untuk beradaptasi dan menyeimbangkan diri dengan 1 kaki.
Dengan hanya satu pedal yang dikayuh, Jothy harus memaksimalkan kayuhan pertama agar pedal tersebut bisa kembali ke posisi atas sehingga bisa dikayuh lagi dengan kaki kirinya. Tentunya lebih sulit dibandingkan mengayuh dengan 2 kaki, karena kayuhannya bisa bergantian antara kiri dan kanan.
Akhirnya sejak 12 tahun lalu, ia mulai menjalani profesi baru sebagai atlet sepeda dan untuk pertama kalinya berlaga di ajang AIDS Ride. Bersama timnya, Jothy mengayuh sepeda dari Boston ke New York untuk menggalang dana bagi para penderita AIDS (acquired immune deficiency syndrome).
Sukses di laga amal tersebut, Jothy melanjutkan kiprahnya sebagai atlet sepeda dengan berpartisipasi dalam laga amal lainnya yakni Pan-Massachusetts Challenge. Partisipasinya kali ini adalah semacam balas budi, karena donasi yang didapatkan akan disumbangkan ke lembaga riset Dana Farber yang menyelamatkannya dari kanker.
Sejak saat itu, Jothy menjadi partisipan tetap dan baginya tahun ini akan menjadi balapan ke-9 di ajang tersebut. Bukan hanya sukses sebagai atlet sepeda, semangat yang tinggi telah mengantar Jothy untuk meraih gelar PhD (Doctor of Philosophy) di bidang komputer dan kini memimpin sekaligus memiliki beberapa perusahaan.
sumber: detik.com
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda
yang sebaya dengannya sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi dengan susah payah membantu, dan akhirnya dia berhasil.
Pemuda pertama memapah pemuda itu ke rumahnya. Ternyata rumah si pemuda sangat bagus, megah dan mewah…Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang diberikan pada anaknya, dan ketika ia hendak memberi uang, pemuda yang pertama tadi menolaknya. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia saling menolong. Sejak kejadian itu mereka menjalin persahabatan.
Si pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedang yang kedua adalah bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin bercita-cita ingin menjadi dokter, tetapi tidak punya biaya untuk kuliah. Tetapi, ada yang membantu, yaitu ayah pemuda yang kaya raya itu. Ia memberi beasiswa sampai akhirnya jadi dokter.
Tahukah saudara siapa nama pemuda itu? Namanya Alexander Fleming, yang kemudian menemukan obat penisilin.
Si pemuda bangsawan masuk dunia militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka dan menyebabkan demam yang sangat tinggi karena sejenis infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk penyakit seperti itu. Para dokter mendengar penemuan Penisilin oleh dr.Fleming dan menyuntikan penisilin ke pemuda itu. Apa yang terjadi? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh.
Tahukah saudara siapa pemuda itu? Namanya adalah Winston Churchill, PM Inggris yang termasyur itu.
Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Fleming menabur kebaikan, ia menuai kebaikan pula. Cita-citanya terkabul, dia menjadi dokter. Fleming menemukan penisilin yang menolong jiwa Churchill. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churchill?
sumber: ceritamotivasi.com
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab, ini adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka.
Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota. Hari pasar, demikian mereka biasa menyebut hari itu. Mereka akan berdagang barang-barang logam itu, sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama sebulan. Beruntunglah, pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang mengunjungi kota, dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini akan membuat semua pedagang membuat lebih banyak barang yang akan dijajakan.
Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya, layaknya nafas hidup bagi mereka. Tungku-tungku api, seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang tampak membara, seakan menjadi penyulut semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah di hiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang siap dijual. Hari pasar makin dekat. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.
Hari pasar telah tiba, dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah sayang, ada kontras yang mencolok diantara keduanya.
Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tak berkilau. Ulir-ulirnya kasar, dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi. Seakan, sang pembuatnya adalah seorang yang tergesa-gesa.
“Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. “Setiap orang akan memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi, “Apalah artinya loyang buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya, aku akan membawa uang lebih banyak darimu.” Pengrajin kuningan hanya tersenyum.
Lain lagi dengan barang dagangan pengrajin kuningan. Ketekunannya mengasah logam, membuat semuanya tampak lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperli lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap di pandang mata.
Hampir semua orang yang lewat, tak menaruh perhatian kepada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi, dan melihat-melihat cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup mereka tertarik, dan mau membelinya.
Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Pengrajin emas yang tertegun diam, dan pengrajin kuningan yang tersenyum senang.
Hari pasar telah usai, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.
Ketekunan memang sesuatu yang mahal. Ketekunan adalah titian panjang yang licin berliku. Seringkali, jalan panjang itu membuat kita terpelincir, dan jatuh. Seringkali pula, titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kebahagiaan di ujung simpulnya. Namun, percayalah, ada balasan bagi setiap ketekunan. Di ujung sana, akan ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.
sumber: bluefame.com
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Ada sebuah jam yang baru selesai dibuat oleh tukang jam, oleh si pembuat, jam tersebut diletakan di gudang penyimpanan. Jam tersebut melihat ada banyak sekali teman temannya yang juga berada di dalam gudang. Jam tersebut dengan penuh kebingungan bertanya kepada salah satu jam di sampingnya.
"Sebagai jam apa yang harus aku lakukan ?"
Jam yang ada disampingnya berkata dengan sombong "Kau harus banyak belajar dariku, dalam satu tahun kau harus bisa menggerakkan bandulmu ke kiri dan kekanan sebanyak 31.536.000 kali"
"Apa?! 31 juta kali? Apakah aku akan sanggup?" keluh si jam yang baru tersebut.
Melihat jam baru tersebut gugup dan kelihatan putus asa, jam lainnya berkata, "Hei anak muda, janganlah kau berpikir berapa banyak dalam setahun kau dapat menggerakkan bandulmu, coba saja gerakan bandulmu satu kali tiap satu detik, hanya itu."
Mendengar saran temannya tersebut ia sedikit tenang, dalam hati ia berkata, "Kalau cuma menggerakkan satu kali tiap satu detik aku pasti bisa."
Akhirnya setahun lewat dan si jam tersebut tanpa ia sadari sudah mampu menggerakkan bandulnya sebanyak 31.536.000 kali.
sumber: bluefame.com
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Setiap orang pasti mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Banyak kisah sukses yang kita dengar, hampir semuanya menceritakan perjalanan yang berbeda. Read more →
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Dahulu kala, ada sebuah pulau yang dihuni oleh berbagai bentuk emosi dan perasaan manusia; seperti, BAHAGIA, SEDIH, ILMU dan lain sebagainya, termasuk CINTA.
Suatu hari datanglah berita bahwa pulau itu akan tenggelam, maka diminta pada semuanya untuk mempersiapkan perahu dan meninggalkan pulau. Saat semuanya pergi, hanya CINTA yang masih tertinggal. CINTA menunggu hingga tiba saat-saat yang terakhir. Dan, ketika pulau sudah hampir tenggelam, CINTA memutuskan untuk mencari bantuan.
Tak beberapa lama, KAYA melintas dengan perahunya yang luar biasa mewah. CINTA berkata, "KAYA, maukah kau membawa aku?" KAYA menjawab, "Tidak, saya tidak bisa. Perahuku penuh dengan emas dan perak. Tak ada lagi tempat untukmu."
Kemudian, CINTA memohon pada CEMAS yang lewat dengan perahunya yang indah. "CEMAS, tolonglah aku." Maaf, aku tidak bisa menolongmu, CINTA. Aku khawatir kau akan merusakkan perahuku," jawab CEMAS.
SEDIH lewat di depan CINTA. Sekali lagi CINTA memohon bantuan dari SEDIH, "SEDIH, ajaklah aku bersamamu." Namun SEDIH menjawab, "Oh, CINTA. Aku begitu sedih. Aku ingin menyendiri."
Tak lama BAHAGIA lewat, tapi ia tampak begitu bahagia hingga tidak mendengar panggilan CINTA.
Tiba-tiba terdengar suara, "Ayo CINTA, aku akan menolongmu." Tampaklah sosok yang begitu tua. CINTA merasa begitu senang sampai-sampai ia lupa menanyakan siapakah yang menolongnya itu.
Ketika mereka sampai di daratan, sosok tua itu pergi meninggalkan CINTA. Baru kemudian CINTA tersadarkan bahwa ia berhutang budi pada sosok tua itu. Lalu ia menanyakan hal itu pada ILMU, "Wahai ilmu, siapakah yang telah menolongku tadi?"
"Itu tadi adalah WAKTU," jawab ILMU.
"WAKTU?" kata CINTA heran. "Tapi mengapa WAKTU menolongku?"
ILMU tersenyum dan menjawab dengan penuh kebijakan, "Karena hanya WAKTU yang mampu memahami bahwa CINTA adalah penyelamat yang paling baik."
sumber: bluefame.com
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Sebagian orang memang kelihatannya tidak ingin untuk terbebas dari masalah. Jika mereka sedang tidak punya cukup masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk Read more →
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.15_1155]