Liena Aifen – berbagi info, tips, motivasi dan bisnis online
Samuel Sekuritas Indonesia
www.LienaAifen.com Page Rank
Contact Liena Aifen
RSS BBC Indonesia
Tag Archives

Menghadapi Rasa Takut

Menghadapi Rasa TakutRasa takut terlarut dalam ketidakpastian masa depan. Namun jika kita tidak memakai kebijaksanaan kita, kitalah yang akan dilarutkan oleh rasa takut.

 

Ada seorang samanera cilik yang hampir terlarut oleh rasa takut, namanya si Belalang Kecil. Suatu hari, gurunya yang buta mengajak si belalng kecil ke ruangan di belakang biara, yang biasanya terkunci. Di dalam ruangan itu terdapat kolam selebar enam meter, dengan sebuah papan sempit sebagai jembatan yang menghubungkan sisi yang satu dengan sisi seberangnya. Sang guru memperingati si Belalang Kecil untuk tidak dekat-dekat dengan pinggir kolam, karena kolam itu bukan berisi air, melainkan berisi larutan asam yang sangat pekat.

 

"Tujuh hari lagi," Si Belalang Kecil diberi tahu, "kamu akan diuji! Kamu harus berjalan menyeberangi  kolam asam ini dengan menjaga keseimbangan di atas papan kayu yang sempit itu. Tetapi hati-hati! Kamu lihat kan tulang belulang di dasar kolam itu?"

 

Si Belalang Kecil melongok was-was dari pinggir kolam, dan melihat banyaknya tulang belulang di dasar kolam itu.

 

"Itu dulunya tulang samanera muda seperti kamu!"

 

Sang guru lantas mengajak si belalng kecil keluar dari ruangan yang mengerikan itu, menuju halaman biara yang diterangi sinar mentari. Di sana, beberapa biksu senior telah memasang papan kayu dengan ukuran yang hampir sama dengan yang ada di kolam airan asam, hanya saja, yang ini  ditaruh di atas tanah dengan disanggah oleh tumpukan dua batu bata. Selama tujuh hari berikutnya Si Belalang Kecil dibebaskan dari tugasnya-tugasnya untuj berlatih keseimbangan di atas papan itu.

 

Itu mudah. Dalam beberapa hari saja dia dapat berjalan dengan keseimbangan sempurna, dengan mata tertutup sekalipun, menyeberangi papan di halaman biara. Dan tibalah harinya ujian.

 

Si Belalang Kecil dibawa gurunya menuju ke ruangan dengan kolam asam. Tulang belulang para samanera yang jatuh tampak putih berkilauan dari dasar kolam. Si belalsng kecil naik ke ujung papan dan menoleh ke arah gurunya. "Jalan!" perintah sang guru

 

Papan di atas kolam asam itu ternyata lebih sempit dari papan di halaman kuil. Si Belalang Kecil mulai melangkah , tetapi langkahnya goyah; dia mulai bergoyang-goyang. Bahkan belum setengah jalan dia makin terhuyung-huyung. Kelihatannya dia akan segera tercebur ke larutan asam. Si Belalang Kecil mulai kehilangan rasa percaya dirinya. Dia melangkah dengan gemetar, lalu oleng….., dia jatuh!

 

Guru tua yang buta tertawa terbahak-bahak ketika mendengar suara Si Belalang Kecil tercebur ke kolam. Itu bukan asam, itu cuma air. Tulang belulang tua itu telah ditaruh di dalam kolam sebagai "tipuan khusus". Mereka telah mengakali Si Belalang Kecil.

 

"Apa yang membuatmu terjatuh?" tanya sang guru dengan serius. "Rasa takutlah yang menjatuhkanmu, Belalang Kecil, hanya rasa takut…."

 

dikutip dari buku si cacing dan hewan kesayangannya

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)

Inipun Akan Berlalu

Inipun Akan BerlaluSeorang narapidana baru merasa ketakutan dan tertekan. Tembok-tembok batu di selnya seperti menyerap habis semua kehangatan; jeruji-jeruji besi bagai mencemooh segala belas kasih; suara gelegar baja yang beradu ketika gerbang ditutup, mengunci harapan jauh-jauh. Hatinya terpuruk sedalam hukuman yang sedemikian lama. Di tembok, di atas kepala tempat tidur lipatnya, dia melihat sebuah kalimat yang tergores disana : INIPUN AKAN BERLALU.

 

Kalimat itu melecut semangatnya, mungkin demikian juga dengan narapidana lain sebelum dia. Tak peduli betapa beratnya, dia akan menatap tulisan itu dan mengingatnya; ini pun akan berlalu. Pada hari dia dibebaskan, dia mengetahui kebenaran dari kata-kata itu. Waktunya telah terpenuhi; penjara pun telah berlalu.

 

Ketika dia menjalani kehidupan normalnya, dia sering merenungi pesan itu, menulisnya di secarik kertas untuk ditaruh di samping tempat tidurnya, di mobil dan di tempat kerja. Bahkan saat dia mengalami hal-hal yang buruk, dia tak akan menjadi depresi. Dengan mudah dia akan mengingat, "ini pun akan berlalu", dan terus berjuang. Saat-saat yang buruk pun tidak memerlukan waktu lama untuk berlalu. Lalu ketika saat-saat yang menyenangkan tiba, dia menikmatinya, tetapi tanpa terlalu sembrono. Sekali lagi dia akan mengingat, "ini pun akan berlalu", dan terus lanjut bekerja, tanpa menggampangkan hal yang menyenangkan itu. Saat-saat yang indah biasanya juga tak akan bertahan lama-lama.

 

Bahkan ketika dia menderita saki, "ini pun akan berlalu" telah memberinya harapan. Pengharapan memberinya kekuatan dan sikap positif yang mengalahkan penyakitnya. Suatu hari, dokter spesialis memastikan bahwa "sakit pun akan berlalu".

 

Pada hari-hari terakhirnya, di atas ranjang kematian, dia membisikkan kepada orang-orang yang dicintainya, "ini pun akan berlalu", dan dengan enteng dia meninggalkan dunia ini. Kata-katanya adalah pemberian cinta terakhir bagi keluarga dan teman-temannya. Mereka belajar darinya bahwa "kesedihan pun akan berlalu".

 

Depresi adalah sebuah penjara yang serind dialami oleh kita-kita ini. "Ini pun akan berlalu" membantu melecut semangat kita; juga menghindarkan salah satu penyebab depresi hebat, yaitu tidak mensyukuri saat-saat bahagia.

 

 

dikutip dari buku si cacing dan hewan kesayangannya

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: +1 (from 1 vote)

Menggenggam Harapan

Menggenggam HarapanSepasang suami isteri menggelar dagangannya di trotoar jalan. Saat itu petang turun terburu-buru. Lampu jalan cukup terang untuk menerangi dagangan mereka. Di kanan kiri tumpukan puing-puing bongkaran pasar mengepung. Di depan berlalu-lalang kendaraan dan langkah-langkah cepat. Siapa pula tertarik membeli? Namun, mereka berdua silih berganti menyapa dan menawarkan dagangan. Kaos anak warna-warni, setangan sebungkus tiga, rok kecil, dan entah apalagi. “Wahai suami isteri pedagang, mengapa kalian yakin ada yang membeli dagangan itu. Bagaimana kalian bisa menjajakan barang di keremangan dan keriuhan seperti ini?”

 

“Kami tak kehilangan harapan”, begitu jawabnya. “Itulah satu-satunya kekuatan kami. Kami tak tahu apa dan bagaimana membesarkan usaha ini, namun kami tahu harapan takkan pernah meninggalkan mereka yang menggenggamnya.”

 

Berterimakasihlah pada orang-orang kecil yang memberikan teladan dan menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka tiang penyangga yang menahan langit dari keruntuhan. Mereka peredup terik mentari kehidupan yang ada kalanya terasa panas membakar.

 

sumber : iphincow.wordpress.com

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)

Belajar Ilmu Pedang

Belajar Ilmu PedangSeorang pemuda ingin menguasai ilmu pedang. Ia mendengar ada guru ilmu pedang yang sangat tersohor dan tak pernah terkalahkan. Guru itu kini menjadi pertapa dan tinggal di puncak gunung tinggi. Karena tekadnya begitu tinggi, ia lalu melakukan perjalanan jauh, mendaki gunung terjal tempat guru ilmu pedang itu bertapa.

 

Akhirnya ia menemukan guru ilmu pedang yang tampak tua, kurus namun penuh wibawa. "Guru, ijinkan hamba belajar ilmu pedang dari guru." Sang Guru mengangguk-angguk.

 

Tanya anak muda, "Jika hamba belajar dengan tekun, berapa lama waktu yang diperlukan agar bisa menguasai ilmu pedang?" Jawab guru, "Hemm, barangkali sepuluh tahun"

 

Tanya anak muda, "Guru, ayah hamba sudah tua dan hamba harus merawatnya. Hamba tak bisa meninggalkannya lama-lama. Jika hamba berlatih lebih giat lagi, berapa lama saya bisa berhasil?" Jawab guru, "Hemm, kalau begitu, bisa jadi dua puluh tahun."

 

Anak muda ini terkejut mendengar jawaban gurunya. Keringatnya mulai bercucuran. Ia bertanya penuh keheranan, "Tadi guru menyebut sepuluh tahun, lalu dua puluh tahun. Begini saja guru, hamba bersedia melakukan apa saja, menempuh jalan sesulit apa pun, asal saya dapat menguasainya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berapa lama waktu yang saya perlukan?" Jawab guru sambil terkekeh-kekeh, "Kalau yang ini, kau akan memerlukan tiga puluh tahun."

 

Pemuda itu menjadi frustasi."Mengapa setiap kali saya memberitahu anda bahwa saya akan bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan saya, Anda memberitahu saya bahwa akan diperlukan waktu yang lebih lama? " tanya pemuda itu, "Jawabannya jelas" kata sang guru. "Dengan satu mata terfokus pada imbalan, hanya tersisa satu mata untuk terfokus pada tujuanmu."

 

kisah ini dikutip dari buku "Simplify your life with Zen"

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 5.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: +1 (from 1 vote)

Lompatan Si Belalang

Lompatan Si BelalangDemi menguji kehebatan dan pola lompat belalang, sebuah perguruan tinggi mengadakan penelitian dengan menangkap seekor belalang muda yang sehat dan memasukkan ke dalam sebuah kotak berudara, yang di atasnya diberi penutup kaca untuk mengamati ulah si belalang.

 

Hari pertama, si belalang melakukan lompatan seperti yang biasa dia lakukan di alam terbuka dan…huup, segera kepalanya terantuk kaca penutup. Pada hari yang sama, kegiatan serupa dilakukannya beberapa kali, dan sebagai akibatnya, si belalang merasakan kesakitan pada tubuhnya yang terbentur berkali-kali. Rupanya, pengalaman itu mengajarkan kepada si belalang untuk mengubah pola lompatan, yang tadinya dengan sekuat kemampuannya, sekarang menyesuaikan diri dengan ketinggian penghalang. Selang beberapa hari, tidak terdengar lagi suara benturan badan belalang ke kaca, dari pengamatan si peneliti, si belalang masih melakukan lompatan, tetapi hanya setinggi di bawah kaca penutup dan tidak mengenainya kaca sama sekali.

 

Setelah si belalang tidak membentur kaca penutup lagi, sang penetili kemudian menurunkan ketinggian penutup kaca. Terjadi pola yang sama. Pada lompatan-lompatan awal, terdengar benturan badan belalang ke penutup kaca berkali-kali. Dan kembali si belalang mengubah pola ketinggian lompatannya untuk menghindari benturan dan kesakitannya. Hingga suatu ketika, setelah beberapa waktu, tidak lagi terdengar benturan badan belalang ke kaca penutup.

 

Setelah sekian lama, dengan ketinggian kaca penutup yang diturunkan secara berkala, akhirnya ketinggian kaca penutup ditempatkan hingga setinggi tubuh si belalang. Si belalang tidak lagi bisa melompat, dia hanya bisa bergeser dan berputar sekitar tempatnya bernaung. Selama ini, makanan selalu diberikan dengan posisi yang tercukupi. Akibatnya, belalang sibuk makan dan tidak pernah melompat lagi.

 

Hingga suatu hari. Si peneliti melepas kembali belalang ke ruang dan alam bebas, ternyata si belalang hanya mampu berjalan ke sana kemari. Ia tetap berusaha mencari makan, tetapi tidak lagi dengan melompat sama sekali.

 

Hidup manusia sebenarnya laksana belalang dalam kisah tersebut. Sebab kita sering kali menghadapi halangan dan tantangan yang kadang membuat kita merasa tidak bisa melompat tinggi. Selain itu kenyamanan yang kita terima setiap hari, malah sering "menjebak" kita dalam zona nyaman yang sulit kita tinggalkan.

 

Padahal sejatinya, jika menilik masa-masa kecil dahulu, saat kita mulai belajar berjalan, kita semua tidak pernah mengenal rasa takut. Ketika jatuh, meski menangis, tapi segera bangkit dan belajar lagi hingga kita mampu berlari. Sayang, seiring dengan tumbuh kembangnya manusia, kadang ada banyak pengaruh lingkungan yang membuat kita takut, jengah, atau cemas saat menghadapi tantangan. Begitu juga saat "jatuh", kita pun merasa sangat sulit bangkit dan berjalan lagi. Mental block, ketakutan di dalam pikiran sendiri, bahwa "aku tidak bisa", "aku tidak mampu", dan seterusnyalah yang sering menjadikan kita sungguh-sungguh menjadi tidak mampu dan akhirnya menerimanya sebagai "nasib yang sudah ditentukan dari sononya".

 

Begitu juga saat kita sudah merasa nyaman dengan posisi atau kedudukan kita. Jika kita hanya puas dengan "menikmati" masa itu, tanpa mau belajar dan berusaha mengembangkan diri, maka jangan salahkan jika keberhasilan kita berbatas sampai di situ saja.

 

Tentu, kita tidak ingin menjadi belalang yang tidak bisa lagi melompat tinggi. Sebab, kita sebagai manusia sebenarnya diciptakan dengan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Keistimewaan kita itulah yang perlu kita pelihara, gali, dan kembangkan. Caranya? Berani terus mencoba mendobrak segala perintang yang menghalang. Jangan terjebak dalam zona nyaman yang melenakan.

 

Mari, terus gali potensi. Kembangkan semangat juang untuk menang. Maka, kita akan terus bisa melompat tinggi mengapai segala cita-cita.

 

sumber : andriewongso.com

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)

Cerita Kacamata Yang Kotor

Cerita Kacamata Yang KotorSuatu ketika ada seorang DPR yang tugas keluar negeri untuk studi banding tentang tata kenegaraan ke suatu negara. Kedudukannya adalah ketua rombongan, sehingga wajar kalau disegani oleh seluruh anggota rombongan. Usianya sudah cukup untuk dikatakan tua. Agak kesulitan jika melihat sesuatu yang ada didekatnya. Oleh karenanya, saat membaca, saat melihat sesuatu yang dekat dibutuhkan alat bantu berupa kacamata.

 

Semua tugas telah dilaksanakan, tibalah saatnya waktu yang dinanti-nantikan. Yaitu free time yang biasa diisi dengan pergi ketempat wisata dan berbelanja atau sekedar membeli oleh-oleh. Sesuai pesanan keluarga, oleh-oleh kali ini berupa hiasan yang bisa dipasang di dinding, atau di meja ruang keluarga.

 

Tiap mengunjungi tempat wisata, selalu keluar kata-kata kagum dan pujian. Tentunya hal ini diangguki oleh para pendampingnya. Selesai agenda jalan-jalan, selanjutnya adalah mencari cendera mata.

 

Kali ini tujuan adalah ke toko penjual cendera mata. Diperhatikannya tiap pernik cendera mata dengan seksama, dan tentunya memakai kacamata. Namun ternyata ketua rombongan ini kurang berkenan dengan cendera mata yang dipajang di toko. Perkataan yang keluar hanyalah ungkapan-ungkapan negatif. Ya kotorlah, kurang bagus, warna yang berantakan, dan lain-lain. Terpaksa pindah ke toko lain. Di toko lain pun, tetap sama, hingga akhirnya keluar masuk toko hingga pulang ke Indonesia dengan tidak membawa apa yang dipesankan keluarga.

 

Sesampainya di rumah, barulah sadar jika kacamata yang ia pakai ternyata kotor.

 

Cerita diatas menggambarkan bahwa segala peristiwa dan kejadian dalam kehidupan ini akan terlihat positif ataupun tidak tergantung dari kacamata yang kita pakai. Kacamata yang kita pakai akan membentuk persepsi, yaitu cara pandang berdasarkan pola pikir dan perilaku.
Setiap orang dapat mendeskripsikan situasi atau kejadian secara berbeda berdasarkan penglihatan mereka. Persepsi tersebut akan mempengaruhi pola pikir serta tindakan selanjutnya.

 

Berpikir dan bersikap optimis tentu membantu persepsi Anda lebih jernih, sehingga nampak jelas peluang-peluang baru yang dapat menolong situasi Anda atau memandu Anda menuju sukses dan kebahagiaan.

 

sumber : resensi.net

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)

Melawan Diri Sendiri

Melawan Diri Sendiri Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan diri adalah pertandingan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua Read more →

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)

Berani Bayar Harga Demi Kebahagiaan

Berani Bayar Harga Demi KebahagiaanSepasang  kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat  cangkir  itu,”  kata  si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat  mereka  mendekati  cangkir  itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima  kasih  untuk  perhatiannya,  perlu  diketahui  bahwa  aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok  tanah liat yang  tidak  berguna.  Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop  ! Aku berteriak,  Tetapi  orang  itu  berkata  “belum  !”  lalu ia mulai menyodok  dan meninjuku  berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku,  tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku  ke  dalam  perapian.  Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”

Akhirnya  ia  mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku  pikir,  selesailah  penderitaanku.  Oh  ternyata  belum. Setelah dingin aku diberikan  kepada  seorang  wanita  muda  dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita  itu  berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan  aku  lagi  ke  perapian  yang  lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan  penyiksaan  ini  !  Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang  ini  tidak  peduli  dengan teriakanku.Ia  terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

Setelah  benar-benar  dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku  dekat  kaca.  Aku  melihat  diriku.  Aku  terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya,  karena  di  hadapanku  berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti  disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa hal itu justru membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita tercapai. Memang pada saat itu tidaklah  menyenangkan,  sakit,  penuh  penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah  satu-satunya  cara  untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.

Apabila  Anda  sedang  menghadapi  ujian  hidup, jangan kecil hati, karena akhir dari apa yang sedang anda hadapi adalah kenyataan bahwa anda lebih baik, dan makin cantik dalam kehidupan ini.

sumber : resensi.net

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)
 Liena Aifen Tracking Visitor
My Tweets
eXTReMe Tracker