Bidan punya peranan penting dalam menyelamatkan nyawa ibu dan bayi yang baru lahir. Ketimbang dokter, bidan lebih sering terjun langsung ke masyarakat. Tapi terkadang tak mudah untuk para bidan diterima warga karena terbentur tradisi dan budaya.
Setiap tahun Ikatan Bidan Indonesia yang didukung PT Sari Husada menggelar ajang Srikandi Award. Ajang ini adalah sebuah inisiatif pembinaan dan penghargaan terhadap bidan yang memberikan baktinya bagi masyarakat khususnya dalam upaya menurunkan angka malnutrisi (kurang gizi), angka kematian bayi/balita dan meningkatkan derajat kesehatan ibu.
Tahap seleksi dan penjurian akhir dari ajang Srikandi Award 2011 telah berakhir. Hasil dari penjurian ini didapatkan bidan-bidan yang inspirasional untuk masing-masing kategori.
Kesembilan bidan inspirasional yang terpilih ini dibagi menjadi 3 kategori yang mencerminkan perjuangan serta tantangan dalam upaya mengatasi masalah kesehatan dan kesejahteraan ibu di Indonesia. Ketiga kategori ini adalah tantangan budaya, promosi kesehatan serta pemberdayaan ekonomi.
Berikut ini bidan pemenang Srikandi Award 2011 untuk masing-masing kategori yang diumumkan pada Selasa malam (20/12/2011):
Pemenang Kategori Pemberdayaan Ekonomi:
Bidan Kesih (35 tahun) yang menjadi pemenang kategori ini bertugas di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung sejak tahun 2006 ini berperan aktif dalam Koperasi Bunda yang membuat keripik opak. Upayanya ini menciptakan lapangan kerja dalam menambah pemasukan keluarga sebagai modal pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kesehatan
Pemenang Kategori Promosi Kesehatan:
Bidan Dewi Susila (32 tahun) yang menjadi pemenang kategori ini bertugas di Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia aktif menggalakkan pencegahan HIV/AIDS melalui program 'Kesan Pertama'. Ia melakukan penyuluhan langsung pada pemuda dan juga melalui media radio. Di tahun keduanya ia berhasil menyiapkan 180 pemuda sebagai agen penyebar informasi mengenai bahaya dan cara penularan HIV/AIDS.
Pemenang Kategori Tantangan Budaya:
Bidan Meiriyastuti (32 tahun) yang menjadi pemenang kategori ini bekerja di Desa Teriti, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Masyarakat punya ritual 'Nyebur ke Ayek' yang mana 7 hari setelah melahirkan bayi dimandikan dengan air kembang di sungai Batanghari yang dingin, dan ibu hanya boleh makan nasi putih dan kecap asin selama 40 hari setelah melahirkan.
Setelah melakukan pendekatan selama 11 tahun, kini ritual tersebut bisa diubah dengan memandikan bayi dalam baksom berisi bunga dan air hangat, sedangkan kebiasaan ibu makan nasi kecap sudah tidak dilakukan lagi.
Dewan juri yang terlibat dalam penjurian Srikandi Awards 2011 ini terdiri dari dr Kartono Mohamad (Mantan Ketua IDI), Dr H Abidinsyah Siregar, DSHM, MKes (Kemenkes RI), Ninuk Mardiana Pambudi (Senior editor harian Kompas), Dr Harni Koesno, MKM (Ketua Umum IBI), Diah Saminarsih (Asistem utusan khusus Presiden untuk MDGs) dan Dr Pinky Saptandari (Staf ahli menteri pemberdayaan perempuan RI).
sumber: detik.com
Tagged 2011, bidan, bidan dewi susila, bidan kesih, bidan meiriyastuti, inspiratif, penghargaan, srikandi award 2011