Liena Aifen – berbagi info, tips, motivasi dan bisnis online
Samuel Sekuritas Indonesia
www.LienaAifen.com Page Rank
Contact Liena Aifen
RSS BBC Indonesia
Motivasi

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Si-Cacing-dan-Kotoran-KesayangannyaSebagian orang memang kelihatannya tidak ingin untuk terbebas dari masalah. Jika mereka sedang tidak punya cukup masalah yang bisa dikhawatirkan, mereka akan menyetel sinetron televisi untuk mengkhawatirkan persoalan tokoh-tokoh fiksi di dalamnya. Banyak juga merasa bahwa ketegangan membuat mereka lebih 'hidup; mereka menganggap penderitaan sebagai hal yang mengasyikkan. Agaknya mereka tidak ingin bahagia, karena mereka mau-maunya begitu melekat pada beban mereka.

 

Dua orang biksu merupakan teman dekat sepanjang hidup mereka. Setelah mereka meninggal, satu terlahir sebagia dewa disebuah alam surga yang indah, sementara temannya terlahir sebagai seekor cacing di seonggok tahi.

 

Sang dewa segera merasa kehilangan kawan lamanya dan bertanya-tanya dimanakah dia terlahir kembali. Dia tidak bisa menemukannya di alam surga yang ditinggalinya,lalu diapun mencari-cari temannya di dunia manusia, namun tidak ketemu juga. Pastilah, pikirnya, temanku tidak akan terlahir di alam hewan, tetapi dia memeriksa alam hewan juga, siapa tahu? Masih saja tidak ada tanda-tanda temannya. Lalu, berikutnya, sang dewa mencari ke dunia serangga dan jasad renik, dan, kejutan besar baginya…, dia menemukan temannya terlahir di dalam seonggok tahi yang menjijikkan!

 

Ikatan persahabatan mereka begitu kuat, sampai-sampai melewati batas kematian. Sang dewa merasa dia harus membebaskan kawan lamanya ini dari kelahirannya yang mengenaskan tersebut, entah karma apa yang membawanya ke situ.

 

Sang dewa lalu muncul di depan onggokan tahi terserbut dan memanggil "Hei, cacing! Apakah kamu ingat aku? Kita dahulu sama-sama jadi biksu pada kehidupan sebelumnya dan kamu adalah teman baikku. Aku terlahir kembali di alam surga yang menyenangkan, sementara kamu terlahir di tahi sapi yang menjijikkan ini. Tetapi jangan khawatir, karena aku akan membawamu ke surga bersamaku. Ayolah, kawan lama!"

 

"Tunggu dulu!" kata si cacing, "apa sih hebatnya 'alam surga' yang kamu ceritakan itu? Aku sangat bahagia di sini, bersama tahi yang harum, nikmat dan lezat ini. Terima kasih banyak!"

 

"Kamu tidak mengerti!" kata sang dewa, lalu dia melukiskan betapa menyenangkan dan bahagianya berada di alam surga.

 

"Apakah di sana ada tahi?" tanya si cacing to the point.

 

"Tentu saja tidak ada" dengus sang dewa.

 

"Kalau begitu, aku tidak mau pergi!" jawab si cacing mantap. "Sudah ya!" Dan si cacing pun membenamkan dirinya ke tengah onggokan tahi tersebut.

 

Sang dewa berpikir, mungkin kalau si cacing sudah melihat sendiri alam dewa itu, barulah dia akan mengerti. Lalu sang dewa menutup hidungnya dan menjulurkan tangganya ke dalam tahi itu, mencari-cari si cacing. Begitu ketemu, dia menariknya.

 

"Hei! jangan ganggu  aku!" teriak si cacing. "Toloooong! Darurat! Aku di culiiiiik!" Cacing kecil yang licin itu menggeliat dan meronta sampai terlepas, lalu kembali menyelam ke onggokan tahu untuk bersembunyi.

 

Sang dewa yang baik hati ini kembali merogohkan tangannya ke dalam tahi, dapat, dan mencoba menariknya keluar sekali lagi. Nyaris bisa keluar, tetapi karena si cacing berlumuran lendir dan terus menggeliat membebaskan diri, akhirnya terlepas lagi untuk kedua kalinya, dan bersembunyi makin dalam lagi ke dalam tahi. Seratus delapan kali sang dewa mencoba mengeluarkan cacing malang itu dari onggokan tahinya, namun si cacing begitu melekat dengan tahi kesayangannya, sehingga dia terus meloloskan diri!

 

Akhirnya, sang dewa menyerah dan kembali ke surga, meninggalkan si cacing bodoh di dalam onggokan kotoran kesayangannya.

 

dikutip dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.15_1155]
Rating: 0 (from 0 votes)

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, 10.0 out of 10 based on 1 rating

Tagged , , , , , , ,

 Liena Aifen Tracking Visitor
My Tweets
eXTReMe Tracker