LienaAifen |
|
| 021 9107 2208 | |
| 0852 8121 9199 | |
| LienaAifen@yahoo.com | |
| Follow me on twitter | |
| Become My fans on facebook |
Dahulu kala, seorang raja telah di buat jengkel oleh salah seorang menterinya. Kapanpun diadakan rapat untuk membahas sesuatu dalam sidang,menteri ini akan menyela dan mulai berpidato, yang tampaknya akan berlangsung selamanya. Tak seorangpun, bahkan sang raja sendiri, berkesempatan untuk mengatakan sesuatu. Lebih-lebih, apa yang dikatakan oleh si menteri jauh lebih tidak menarik ketimbang isi sebutir bola ping-pong.
Setelah suau rapat yang lain juga tidak menghasilkan keputusan apapun, sang raja mencari kedamaian di tamannya, mrnjauhi kefrustasian polotik. Di bagian taman yang terbuka untuk umum, sang raja menyaksikan sekelompok anak-anak yang riang gembira mengerumuni seorang lelaki paruh baya, seorang cacat yang duduk di tanah. Anak-anak itu memberikan si lelaki beberapa keping uang logam,menunjuk ke suatu pohon kecil, dan meminta ayam kepadanya. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah tas penuh kerikil dan sebuah tulupan, lalu mulai menembakkan kerikil ke arah pohon itu.
Dia menembak jatuh daun demi daun dari pohon kecil itu dengan tembakan beruntun dari tulupannya. Dengan kecepatan yang mencengangkan, dan dengan ketepatan yang sempurna, dia memangkas pohon itu menjadi seperti bentuk seekor ayam jantan. anak-anak itu lalu memberikan uang yang lebih banyak lagi, menunjuk ke arah sebuah semak besar dan meminta seekor gajah kepadanya. Segera si penembak jitu yang cacat itu, dengan tulupannya, memahat semak besar itu menjadi bentuk seekor gajah. Ketika anak-anak itu bertepuk tangan dengan riuh, sang raja mendapatkan sebuah gagasan.
Lalu sang raja pergi menghampiri lelaki cacat itu dan menawarkan kekayaan yang berlimpah ruah kepadanya, jika dia bersedia membantu sdang raja membereskan sebuah masalah yang sepele tapi menjengkelkan. Sang raja membisikkan sesuatu ke telinga lelaki itu. Lelaki itu mengangguk-angguk setuju dan sang raja tersenyum untuk pertama kalinya dalam minggu itu.
Pagi berikutnya, sidang berlangsung sebagaimana biasanya. Tak seorangpun memperhatikan kehadiran sebuah tirai baru yang dipasang pada salah satu sisi tembok. Saat itu sidang akan membahas mengenai usulan kenaikan pajak.
Tak berapa lama setelah raja mengumumkan agenda sidang, si menteri super bawel memulai celotehannya. Ketika dia membuka mulutnya, dia merasakan ada sesuatu yang kecil dan lembut mengenai bagian dalam tenggorokannya dan meluncur turun ke dalam perutnya. Dia menelannya dan karena itu ocehannya menjadi agak tersendat, tetapi dia terus maju pantang mundur.
Lagi dan lagi dia harus menelan sesuatu itu selama dia berbicara, tetapi sesuatu itu masih saja tak mampu membuatnya berhenti bicara. Setelah setengah jam berpidato dengan penuh semangat, dan menelan sesuatu itu setiap detiknya, dia merasa amat sangan mual.Tetapi kepala batunya tak membuat dia menghentikan pidatonya. Setelah beberapa menit kemudian, wajahnya terlihat pucat bersemu kehijauan, perutnya terasa mual, dan akhirnya dia terpaksa menghentikan ocehannya. Dengan sebuah tangan memegangi perutnya yang sakit dan tangan yang lain menutupi mulutnya untuk mencegah sesuatu yang menjijikkan keluar dari sana, dengan panik dia bergegas mencari kamar mandi terdekat.
Dengan gembira raja menghampiri tirai dan menyibaknya untuk berterima kasih kepada pria cacat itu, yang sebelumnya memang bersembunyi di balik tirai tersebut bersama dengan tulupan dan sekantong amunisinya. Sang raja tak dapat lagi menahan tawanya begitu melihat sekantong besar amunisi yang sudah hampir habis, peluru-peluru tahi ayam yang telah ditembakkan ke mulut se menteri dan berhasil menimbulkan kerusakan parah terhadap menteri malang itu.
Si menteri tidak dapat menghadiri sidang selama beberapa minggu. Sungguh mengesankan, betapa banyak urusan dapat diselesaikan selama ketidakhadirannya. Lalu ketika dia kembali menghadiri sidang, dia menjadi pendiam sekali. Dan jika dia terpaksa harus berbicara, dia akan selalu menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
sumber : buku "si cacing dan kotoran kesayangannya"
Tagged cerewet, cerita, inspirasi, motivasi, perdana menteri, raja, slider
